Ikhlas dan Sabar adalah kunci Sukses


 
Resep meraih kesuksesan ternyata sederhana. Cukup dengan ikhlas, sabar, menjaga kepercayaan, dan mendapat restu dari orang-orang terdekat, niscaya kesuksesan akan menghampiri Saudara. Setidaknya Evita Maryanti Tagor telah memetik buah filosofi tersebut.

 oleh EVITA MARYANTI TAGOR

Banyak cara untuk meraih kesuksesan. Sebagian orang mungkin memilih bekerja dengan penuh ambisius, ngoyo, dan bersikap ofensif dalam mengejar obsesinya.

Evita Maryanti Tagor justru menempuh jalan sebaliknya. Presiden direktur PT Tugu Pratama Indonesia (TPI) ini memilih sabar dan ikhlas sebagai sumber energinya dalam bekerja dan mencapai keberhasilan.

“Selain berupaya untuk ikhlas dan sabar, aku mengedepankan kebersamaan dan selalu berusaha menjaga kepercayaan,” kata Evita kepada wartawan Investor Daily Abdul Aziz dan pewarta foto Eko S Hilman di Jakarta, baru-baru ini.

Banyak manfaat yang dipetik Evita dengan bersikap sabar, ikhlas, dan mengutamakan kebersamaan. “Apapun yang dilakukan akan terasa ringan apabila dikerjakan dengan ikhlas, penuh kesabaran, serta mendapat restu dan dukungan orang-orang terdekat kita, baik di rumah maupun di kantor,” paparnya.

Di luar itu, Evita Maryanti adalah sosok eksekutif yang memegang teguh amanah dan integritas. Ternyata, prinsip tersebut berkaitan erat dengan keyakinan religiusnya bahwa posisi yang ditempatinya saat ini adalah ujian yang harus dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Tuhan.

“Apa yang diperoleh atau dijabat hari ini merupakan ujian dari Allah SWT. Pada akhirnya, kepada Tuhanlah kita harus bertanggung jawab atas semua tindakan kita,” ujar perempuan kelahiran Jakarta, 9 Juni 1960, itu.

Lalu, apa kata Evita tentang arti sukses? Bagaimana ia menyeimbangkan kehidupan pribadi dengan pekerjaan? Berikut petikan lengkap wawancara dengan orang nomor satu di perusahaan asuransi yang sedang mengkaji rencana penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham tersebut.

Bagaimana perjalanan karier Saudara hingga menduduki posisi puncak di TPI?
Setelah lulus dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia jurusan akuntansi, aku memulai karier di Pertamina sebagai kader Direktorat Keuangan cq bagian akuntansi di Kantor Pusat Pertamina sejak 1986. Sejak itu, aku terus bekerja dan berpindah- pindah bagian di lingkungan Pertamina bagian keuangan.

Sejalan dengan perpindahan bagian, karier aku juga merambat naik dari waktu ke waktu, hingga akhirnya pada Mei 2006 aku diangkat menjadi deputi direktur perbendaharaan dan pendanaan Direktorat Keuangan. Jabatan deputi direktur adalah jabatan karier struktural tertinggi di Pertamina.

Setelah menjabat sebagai deputi direktur selama hampir enam tahun, pada pertengahan Januari 2011 aku diperbantukan oleh Pertamina dan   ditempatkan sebagai presiden direktur PT TPI sampai saat ini. Pertamina memiliki 65% saham TPI.

Mengapa Saudara tertarik berkarier di perusahaan asuransi?
Aku mengenal industri asuransi sejak di Pertamina, karena aku di Pertamina juga membawahi bagian asuransi dan manajemen risiko. Aku pun pernah ditugaskan menjadi Komisaris di TPI pada 2006-2008 sebagai wakil pemegang saham Pertamina, sampai akhirnya dipercaya Pertamina menjadi presiden direktur anak perusahaan bidang asuransi.

Sebenarnya aku pernah kecewa dengan asuransi, karena kesulitan mencairkan polis asuransi ayah aku yang meninggal dunia. Namun, Allah SWT justru menempatkan aku dalam jabatan yang berhubungan terus dengan asuransi, sehingga aku berkeinginan memperbaiki citra asuransi di masyarakat sebagai pelindung pemegang polis.

Saudara punya karakter kepemimpinan seperti apa?
Di dalam perusahaan, semua karyawan memiliki hak dan kewajiban yang sama sesuai jabatan dan pertanggungjawabannya. Dengan demikian, seharusnya semua karyawan fokus dan memiliki objektivitas yang sama pula, yaitu memajukan perusahaan untuk kepentingan seluruh stakeholder.

Karyawan juga aset perusahaan yang berharga, dan merupakan mitra aku dalam menjalankan perusahaan, serta bagian team work aku, sehingga pintu aku selalu terbuka bagi para karyawan yang membutuhkan pendapat atau arahan. Bila diperlukan, masalah yang timbul kami bahas bersama pada level manajemen untuk dicarikan solusi yang terbaik dan tetap fokus demi kepentingan perusahaan.

Status gender tidak menjadi kendala?
Aku dibesarkan di keluarga yang tidak terperangkap dalam masalah gender dan selama aku berkarier di Pertamina, aku merasa tidak ada hambatan atau masalah gender, termasuk untuk menempati posisi atau jabatan struktural yang tinggi. Bagi aku, selama seseorang mampu, maka masalah gender tidak memengaruhi kemampuan seseorang untuk memimpin.

Selama ini aku menerapkan gaya kepemimpinan yang mengutamakan team work dan saling percaya. Dan, alhamdulillah, aku merasa didukung oleh rekanrekan aku sesama karyawan.

Strategi Saudara dalam memajukan perusahaan?
Pertama-tama aku harus memberikan arahan-arahan, strategi-strategi, dan alasan (reasons) kenapa kami melakukan sesuatu. Kemudian perlu didukung program-program kerja yang realistis dan membantu memecahkan permasalahan. Setelah itu, kami harus meningkatkan kapabilitas karyawan dan memberikan motivasi kepada para karyawan untuk mencapai rencana kerja yang ditetapkan.

Yang tidak kalah penting adalah menerapkan tolok ukur kinerja bagi setiap bagian dan diturunkan menjadi ukuran kinerja bagi setiap individu agar dalam penilaian hasil kerja dapat lebih objektif dan terukur. Mudah-mudahan strategi yang diterapkan dapat membuat kinerja TPI tumbuh baik.

Gebrakan apa yang telah Saudara lakukan di TPI?
Aku baru 11 bulan di TPI, sehingga belum banyak yang telah aku perbuat untuk perusahaan. Saat ini, aku sedang mencoba menaikkan kinerja perusahaan dengan menggugah motivasi kerja karyawan. Mudah-mudahan akan berdampak pada kinerja perusahaan demi eksistensinya. Di samping itu, mengingat kompetisi yang sangat ketat pada industri asuransi, aku rasa perlu mempertahankan prinsip-prinsip good corporate governance.

Prinsip yang Saudara pegang teguh dalam bekerja?
Prinsip utama yang harus aku pegang adalah integritas dan amanah. Apa yang diperoleh atau dijabat hari ini merupakan ujian dari Allah SWT kepada pribadi kita. Pada akhirnya, kepada Allah SWT kita harus bertanggung jawab atas semua tindakan kita.

Kiat Saudara dalam mencapai kesuksesan?
Kiat aku dalam menjalani peran gsaudara sebagai istri, ibu, dan wanita karier adalah ikhlas, sabar, kebersamaan (team work), dan menjaga kepercayaan yang diberikan. Apapun yang sedang dilakukan akan terasa ringan apabila dikerjakan dengan ikhlas, penuh kesabaran, serta mendapat restu dan dukungan orang-orang terdekat kita, baik di rumah maupun di kantor. Yang penting, kita harus dapat menempatkan diri sesuai peran yang dijalani dan jangan membawa masalah kantor ke rumah atau sebaliknya.

Apa filosofi hidup Saudara?
Follow where the water flows. Ikhlas dan syukuri apa yang ada, karena di balik semua kejadian ada hikmah yang besar.

Obsesi yang sudah dan belum Saudara capai?
Obsesi yang sudah tercapai adalah menduduki karier tertinggi di Pertamina dengan baik. Obsesi yang belum dicapai adalah membawa TPI menjadi perusahaan asuransi yang terpsaudarang di Asia Tenggara dengan kinerja usaha sekelas perusahaan asuransi di kawasan regional. Secara pribadi, obsesi aku adalah melihat putra-putri aku mendapatkan keberhasilan di bidangnya serta berbahagia dengan keluarganya masing-masing.

Saudara sudah merasa sukses?
Kesuksesan adalah relatif bagi setiap orang. Aku merasa telah diberikan kepercayaan lebih serta rezeki lebih baik dari yang aku perkirakan ketika pertama aku masuk menjadi pekerja Pertamina. Mudah-mudahan semua usaha dan kerja keras aku bagi perusahaan dapat menjadi tambahan amal bagi bekal aku di hari kemudian.

Ukuran sukses menurut Saudara?
Definisi dan ukuran sukses bagi setiap orang juga berbeda-beda. Bagi aku, seorang manusia sukses bila dapat menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhiratnya, kehidupan keluarga dan di kantor. Apakah sudah tercapai keseimbangan itu? Masing-masing dari kita bisa menjawabnya dalam hati.

Bagaimana Saudara menyeimbangkan pekerjaan dengan kehidupan pribadi?
Alhamdulillah, aku memang beruntung memiliki keluarga dan lingkungan yang sangat mendukung pekerjaan aku di dalam dan di luar rumah. Almarhum suami aku, anak-anak aku, ibu aku, adalah harta yang tidak dapat dinilai bagi aku dan merupakan pendukung utama atas apa yang aku capai sampai hari ini.

Antara aku dan suami ada kesepakatan bahwa masalah di kantor tidak boleh dibawa ke rumah dan nakhoda rumahtangga tetap di tangan suami, sehingga bila aku bekerja di kantor maka aku akan bekerja semaksimal mungkin karena tidak mau membawa pekerjaan ke rumah. Bila aku di rumah, aku fokus melayani keluarga aku dan berperan hanya sebagai istri dan ibu rumah tangga. Tentu semua tidak selalu mulus, namun dengan saling pengertian, saling percaya, dan saling menyadari peran masing-masing, mudah-mudahan keseimbangan dapat dijaga dengan baik.

Arti keluarga bagi Saudara?
It means everything to me. Family is the most important asset in my life. Tanpa keikhlasan dan rida suami, aku tidak mungkin akan bekerja, karena sebagai wanita muslim, jihad aku ada di dalam rumah. Bila akan melangkah ke luar rumah, seorang istri harus mendapat izin suami. Untuk itu, aku sangat berterima kasih pada suami atas kepercayaannya terhadap aku. Aku bekerja juga untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Peran keluarga dalam karier Saudara?
Keluarga aku sangat mendukung dan mendorong aku untuk mencapai karier lebih baik. Apalagi aku mulai bekerja sebelum aku menikah, sehingga suami aku dapat memahami, ikhlas, dan mendukung karier aku. Suami aku bahkan mengajarkan aku agar lebih mandiri, terampil, dan berani mengambil keputusan sulit sekalipun. Dalam rangka mendukung karier aku, ibu aku juga rela membantu mengurus anak-anak aku sewaktu diperlukan, terutama saat mereka masih kecil-kecil.

Apa yang Saudara kejar dalam hidup?
Kebahagiaan dunia dan akhirat. Ini hanya bisa dicapai bila ada keseimbangan amalan dunia dan akhirat. Titik keseimbangan ini berbeda pada setiap orang. Aku pribadi masih dalam taraf belajar mencari keseimbangan kedua hal tersebut.(http://www.investor.co.id)

KADO UNTUK SAMUEL

KADO UNTUK SAMUEL
by: Dewa Klasik Alexander
“Mengasihi artinya berbagi kebahagiaan dan berkorban demi kebahagiaan orang yang kita kasihi” – Dewa Klasik Alexander

“Aku menemukan sisi lain dari keindahan dunia ini saat mengenalmu dan ketika aku kehilangan dirimu, engkau menjadi inspirasi bagiku.” – Dewa Klasik Alexander
Aku meneguk sisa es teh tawar yang masih tersisa di gelasku. Ketika aku masih menikmatinya ekor mataku menangkap sosok anak laki-laki yang memperhatikanku. Matanya menatapku. Sebuah tatapan yang menusuk ke dalam hatiku. Tatapan yang penuh iba. Aku meletakkan gelas yang hanya menyisakan es batu yang masih membeku.
“Bu, anak kecil yang duduk di pinggir jalan itu siapa ya?” tanyaku penasaran kepada pemilik warung sambil memandang anak laki-laki tersebut.
“Ow… Duh, kasihan tuh anak, bang!”
“Kasihan kenapa, bu?”
“Sudah seminggu bapanya meninggal gara-gara sakit. Ibunya sih meninggal pas melahirkan dia. Dia ngga punya keluarga lagi. Sekarang sih dia tidur di mana saja karena di usir dari kontrakan.”
“Begitu ya, bu!”
Selesai membayar es teh tawar yang aku pesan. Aku menghampiri anak laki-laki yang hanya mengenakan pakaian kumal tanpa alas kaki. Entah sudah berapa lama dia tidak mengganti pakaiannya.
Semakin aku mendekatinya semakin jelas kelihatan kalau tubuhnya tidak terurus. Dia terus menatapku sampai aku duduk di sampingnya.
“Nama kamu siapa dek?” tanyaku dengan nada bersahabat sambil mengukir sebuah senyuman.
“Aku lapar, kak!” ucapnya sambil memegang perutnya.
Aku mencoba mengingat uang yang masih tersisa di saku dan dompetku. Hanya ada selembar sepuluh ribuan dan dua koin lima ratus.
“Nanti kakak belikan kamu makanan. Tapi nama kamu siapa?” Sekali lagi aku menanyakan namanya.
“Benar kak? Serius? Kakak ngga bohongkan?”
“Iya. Ngapain bohong? Tapi nama kamu siapa?”
Aku melihat senyuman manisnya yang memancarkan barisan giginya yang tersusun rapi tapi berwarna kuning karena tidak pernah disikat.
“Namaku Samuel Lie. Dipanggilnya Samuel. Kalau kakak?”
“Dewantara, panggil saja kak Tara!”
Dia mengulurkan tangannya lalu kusambut. Sebuah jabatan salam perkenalan yang hangat. Terasa kalau tangannya penuh dengan debu ketika tanganku bersentuhan dengan tangan munggilnya. Kukunya yang panjang menyembunyikan daki berwarna hitam di setiap kuku jarinya.
“Yuk, kita makan.”
“Di mana kak?”
“Tuh ada warteg!” ucapku sambil menunjuk sebuah warteg.
Dengan langkah semangat Samuel memegang tanganku dan menuntunku ke warteg tersebut. Wajah murungnya berubah menjadi ceria.
Aku hanya memandangnya dengan mata yang hampir copot. Lahap sekali anak ini makan. Kurang dari lima menit, makanan yang aku pesan sudah tidak tersisa lagi. Sampai menjilat jarinya segala.
“Terima kasih ya, kak!” ucapnya dengan malu-malu.
“Sama-sama,” balasku terharu meski aku tahu jatah makan malamku sudah tidak ada lagi.
*****
Aku manatap Samuel yang tidur terlelap yang hanya beralaskan koran dan tumpukan baju di kosku yang hanya berukuran 2×1,5 meter. Masih terngiang pembicaraan antara aku dengan Samuel sebelum dia terlelap.
“Aku panggil kakak dengan sebutan Ko Dewa ya?”
Aku menatapnya dengan keheranan di antara terang yang dipancarkan lilin kecil. Anehkan? Kos yang aku tinggali hanya seratus ribu sebulan. Tanpa listrik dan tanpa kamar mandi. Jadi kalau mau mandi harus ke WC umum. Itu pun harus bayar. Suara kereta api yang lewat persis di depan kosku sudah menjadi musik tersendiri bagiku. Kata orang ada harga, ada mutu. Seperti itulah gambaran kos di pinggiran rel kereta api.
“Dulu aku punya koko.”
“Trus koko kamu di mana sekarang?”
Hening. Sunyi. Bisu.
“Koko… Koko meninggal karena sakit sama seperti papa. Namanya Ko Daniel.”
Kembali kesunyian mencekam.
“Ngga apa-apakan kalau aku manggil kakak dengan panggilan Ko Dewa?”
Aku berusaha untuk tersenyum, “panggil saja Ko Tara, ya?”
“Oklah kalau begitu.”
Aku tertawa dengan tingkah lakunya yang masih polos.
Karena lelah Samuel langsung tidur terlelap. Sementara aku berusaha menutup mataku diantara suara perutku yang berbunyi karena kelaparan.
*****
“Koko pengen punya toko sendiri,” celotehku ketika mengajaknya ke tempatku bekerja. “Ngga perlu besar, yang penting milik sendiri.”
“Kenapa ngga jadi koki saja?”
“Koki?”
“Iya. Bisa makan sepuasnya. Kita makan ya ko?”
“Kamu lapar?”
“Lapar setengah mati.”
“Tapi uang koko tinggal seribu rupiah. Cuma bisa beli gorengan.”
Samuel hanya menatapku.
“Kamu disini ya, koko beliin kamu gorengan dulu.”
“Iya ko.”
Aku berlari untuk membeli dua potong pisang goreng. Begitu kembali, mata Samuel berbinar-binar ketika menerima dua potong pisang goreng.
“Ini untuk aku dan ini untuk koko,” ucapnya sambil menyerahkan sepotong pisang goreng.
“Untuk kamu saja ya!”
“Ngga mau! Koko kan belum makan apa-apa dari semalam?”
Dengan berat hati aku memakannya juga.
Setelah itu aku langsung melakukan tugasku ketika tiba di toko. Membuka toko, lalu membersihkannya, melayani pembeli dan kemudian menutupnya. Gajinya sih cukup untuk bayar kos, makan, kebutuhan sehari-hari dan biaya transportasi. Tapi beruntung Ko Willy, si empunya toko berbaik hati mengizinkan aku memakai komputernya untuk jualan online. Aku menjual tas yang ada di toko Ko Willy di blogku yang kuberi nama  Keuntungannya memang sedikit. Tapi aku percaya, setia dalam hal yang kecil maka Tuhan akan mempercayakan hal yang lebih besar lagi.
“Nanti kalau ada yang beli tas sama koko, nanti koko traktir kamu di KFC.”
“Wow! Samuel doain semoga laku. AMIN”
Aku hanya tersenyum. Apa lagi melihat tubuhnya sudah bersih. Meski baju yang dikenakannya kebesaran.
Aku belum bisa membelikan Samuel baju sehinga mau ngga mau dia harus memakai pakaianku.
*****
“Kamu sikat gigi pakai garam ya?”
Samuel menatapku dengan kebingungan.
“Odolnya habis. Koko belum bisa beli.”
“Ow.”
“Begini caranya…” ucapku lalu mengambil garam dengan telunjuk tanganku dan menggosokkannya ke gigiku.
“Asin ko!”
Aku tersenyum meski hatiku perih.
“Yah iyalah masa manis.”
*****
“Badanmu panas,” keluhku bingung ketika tanpa sengaja menyentuh tubuhnya. “Kamu sakit ya?”
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut munggil Samuel yang merah. Dahinya berkerut dan bibirnya mendesah menahan sakit.
Sementara di luar kos, gerimis mulai turun.
Tubuh Samuel kedinginan. Tidak ada jaket atau selimut. Aku berusaha menghangatkan tubuhnya dengan menempelkan beberapa baju ke seluruh tubuhnya.
“Kita ke dokter ya?” usulku, meski aku sendiri tidak yakin mendapat pertolongan tanpa uang yang cukup. Orang miskin dilarang sakit! Kalau berobat harus pinjam sana-sini buat biaya berobat. Setelah sembuh kerja keras lagi buat bayar hutang.
Aku semakin bingung ketika Samuel tidak menjawab. Dia hanya mengerang dengan mata tertutup rapat.
Aku menggendong tubuh Samuel dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Entah kenapa aku takut kehilangan Samuel. Meski baru dua minggu mengenalnya. Rasanya seperti terjalin ikatan batin yang kuat diantara kami.
Sehari tanpa ocehan Samuel rasanya ada yang aneh. Pertanyaan-pertanyaan sering terlontar dari mulutnya hingga kadang aku kewalahan menjawabnya.
“Woi, mau ke mana loe?” sergah satpam rumah sakit ketika melihatku. “Enak saja main masuk!”
“Adik saya sakit, pak?”
Satpam tersebut memandangku dan Samuel berkali-kali. Mungkin dia bingung, aku yang pribumi memiliki adik yang keturunan Tionghoa.
“Bawa saja ke rumah sakit lain. Di sini bayarnya mahal. Ngga terima pasien kayak begini!”
Ya Tuhan? Apa rumah sakit ini hanya menerima pasien yang menaiki mobil mewah yang bisa di rawat di sini? Sementara orang miskin sepertiku tidak diterima?
Ketika satpam tersebut mengarahkan mobil mewah untuk mendapatkan parkir aku langsung menerobos masuk. Aku tetap nekat untuk masuk. Apa pun akan aku lakukan untuk Samuel. Satpam tersebut hanya pasrah dengan sikapku. Aku tidak menghiraukan tatapan orang yang melihatku basah kuyup tanpa alas kaki. Sandal nyang kupakai tadi putus. Mungkin sudah waktunya untuk diganti.
Aku tidak menghiraukan tatapan orang yang memandangku. Dinginnya AC menusuk hingga tulang sum-sumku.
*****
Empat hari kemudian.
“Hemofilia?” tanyaku kaget.
“Penyakit gangguan pembekuan darah dan diturunkan oleh melalui kromosn X,” ucap dokter muda yang cantik perawakannya memberiku penjelasan.
Aku menggagumi kecantikannya.
“Tapi selama ini tidak ada keanehan yang saya temui, seperti pendarahan yang terus menerus atau terjadi benturan pada tubuhnya yang mengakibatkan kebiru-biruan. Kalau boleh tahu, Samuel mengidap hemofilia A atau Hemofilia B, dok?”
“Begitu ya? Hemofilia B.”
Aku terdiam.
“Tidak hanya itu, hasil pemeriksaan menyatakan kalau dia juga positif HIV.”
Aku berdiri seperti patung. Samuel yang masih berumur enam tahun mengidap HIV? Ayah atau ibunyakah yang menularkan? Atau karena dia pernah menjalani transfusi darah dan ternyata Human Immunodeficiency Virus lolos dalam transfusi darah yang dijalanninya.
Kini aku tahu, kenapa tidak ada satu pun keluarganya yang mau menampungnya yang sebatang kara. Mungkin ayahnya meninggal karena HIV juga. Entahlah.
Aku menatap wajah pucat Samuel yang terbaring lemah dengan infus yang terpasang ditubuhnya. Selama Samuel di rawat tidak ada satu pun kata keluh kesah yang keluar dari mulutnya.
Masih jelas tergambar di memoriku pembicaraan kami berdua ketika mengajaknya makan di KFC di salah satu mal di bilangan Jakarta Barat.
“Samuel pengen kado natal!” Ungkap Samuel tiba-tiba begitu melihat nuansa natal yang menghiasi setiap penjuru mal.
“Mau kado apa?”
“Cuma pengen boneka Tazmania.”
“Nanti koko belikan kalau koko sudah punya duit. Beberapa harri ini belum ada tas yang laku. Nanti koko belikan boneka Tazmania yang gede.”
“Yang kecil juga ngga apa-apa kok.”
“Tapi jangan lupa berdoa ya.”
“So, pasti!”
Malamnya sebelum beranjak tidur, kembali dia mengutarakan keinginannya.
“Koko pasti belikan buat kamu. Berharap sebelum natal banyak tas yang laku.”
“Amin!” teriaknya memecah kesunyian malam.
Hatiku miris, seharian aku dan Samuel hanya minum air kran. Tidak ada duit yang tersisa.
“Maafkan koko, Samuel,” bisikku dalam hati sambil mengusap kepalanya.
Menit berikutnya.
Dia mengajakku berdoa. Biasanya aku yang mengajaknya.
“Tuhan… Berkati Ko Tara ya. Berkati pekerjaannya dan usaha on…”
“Online.” timpalku yang mengetahuinya kesulitan menyebut kata tersebut.
“Usaha onlinenya. Berkati juga bloknya.”
Aku tersenyum ketika dia menyebut kata blog dengak pemakaian huruf K dibelakangnya.
“Nama blognya apa ko?”
,” ucapku dengan perlahan-lahan.”
“Berkati kamarsolusi dot kom ya Tuhan. Biar banyak orang yang diberkati.”
Aku terharu. Aku meneteskan air mataku.
*****
“Ko, aku mau pulang saja!”
“Kenapa sayang? Di sinikan enak? Ngga kayak di kos koko.”
“Tapi aku kasihan koko harus berhutang untuk bayar semuanya.”
Diam. Sesak.
“Kamu jangan pikirkan itu ya, sayang. Tuhan pasti cukupkan semuanya.”
Tidak ada pilihan selain meminjam uang dengan Ko Willy dengan jaminan gajiku di potong setengah dari seharusnya aku terima setiap bulan.
Sebatang kara seperti ini tidak bisa berharap pertolongan kepada keluarga. Ah, betapa indahnya kalau masih memiliki keluarga. Teman? Ini Jakarta. Uang ngga jatuh dari pohon kayak daun kering. Siapa yang mau memberikan pinjaman kepadaku tanpa jaminan apa-apa yang bisa disita kalau tidak mampu melunasi hutang yang ada? Memberikan pinjaman ke keluarga sendiri saja masih pakai hitung-hitungan. Kalau mau nyumbang harus di ekspos. Berharap kepada manusia memang sering mengecewakan.
“Kamu harus di rawat di sini supaya cepat sembuh.”
“Ko…. Maafkan aku.”
“Kenapa harus minta maaf?”
“Aku sudah merepotkan koko.”
Aku menggenggam tangannya. “Kamu tidak merepotkan kok. Percayalah! Koko malah senang bisa berkorban buat kamu.”
******
Segala macam usaha telah di coba oleh tim dokter yang menangani Samuel. Sudah dua minggu terakhir ini berbagai obat pun silih berganti dimasukkan ke dalam tubuhnya.
Setiap hari berjam-jam aku menemaninya setelah pulang dari jaga toko. Mengobrol, bergurau atau kadang-kadang berdongeng untuknya.
“Ko, apa artinya meninggal dunia?”
Pertanyaan yang menghentakkan diriku yang lelah dan lapar. HIV sudah memorak-porandakan seluruh sistem pertahanan tubuh Samuel. Infeksi yang tidak terlalu berat pun dapat menimbulkan penyakit yang fatal.
“Artinya, kamu akan suatu tempat yang jauh. Tempat di mana kamu berasal.”
“Perginya sendirian?” tanyanya lemah.
Mataku berkaca-kaca. Namun aku mencoba untuk menahan agar air mata itu tidak jatuh.
“Sendirian. Tapi kamu jangan takut.”
“Kalau aku meninggal dunia, siapa yang akan menemani koko?”
Akhirnya air mataku juga jatuh. Diantara penderitaannya dia masih memikirkanku.
“Aku tahu, koko sering ngga makan biar aku kenyang. Koko sering jalan kaki pulang pergi ke toko biar bisa belikan aku sesuatu setiap hari. Nanti di sana, siapa yang motongin kuku Samuel?” ucapnya sambil meneteskan air matanya.
Aku memeluknya.
“Kamu ngga usah mikirin koko ya, sayang! Tuhan pasti menjaga koko.”
“Nanti kalau aku sudah besar dan punya uang yang banyak. Aku mau belikan koko sebuah toko. Biar koko ngga usah kerja lagi. Trus belikan koko rumah dan mobil, biar kalau hujan bisa tetap tidur enak dan tidak perlu lagi jalan kaki.”
Mulutku tertutup rapat. Bungkam. Tak ada kata yang bisa melewati kerongkonganku. Di tengah rasa sakitnya, dia masih menyimpan sebuah impian. Bukan keluh kesah karena sakit yang di deranya.
******
Aku membawa sebuah boneka Tazmania kecil untuk Samuel. Samuel yang terbaring lemah memaksakan senyumannya.
“Ko…”
“Kenapa sayang?”
“Besok aku tidak bisa ikut koko natalan di gereja.”
“Ngga apa-apa.”
“Kamu suka ngga bonekanya?”
“Terima… kasih… ya, ko! Bonekanya bagus banget.”
“Maafkan koko ya. Koko ngga bisa belikan kamu boneka yang gede.”
“Ko, aku mau… kasih koko… kado.”
Aku tercengang!
“Aku cuma… bisa kasih lagu buat koko…”
Aku mendekatkan kupingku di wajah Samuel. Suaranya semakin pelan.
“Ku yakin saat Kau berfirman
Ku menang saat Kau bertindak
Hidupku hanya ditentukan oleh perkataanMu
Ku aman karna Kau menjaga
Ku kuat karna Kau menopang
Hidupku hanya ditentukan oleh kuasaMu
Bagi Tuhan tak ada yang mustahil
Bagi Tuhan tak ada yang tak mungkin
MujizatNya disediakan bagiku
Ku diangkat dan dipulihkanNya”
Air mataku terus jatuh ketika dengan susah payah dia menyelesaikan lagu tersebut. Meski sudah tidak ada lagi harapan Samuel tetap percaya mujizat itu ada.
“Selamat natal ya ko,” ucapnya dengan sangat pelan.
“Selamat natal juga sayang.”
“Ko…”
“Iya, sayang!”
“Koko bisa nyanyikan aku lagi malam kudus? Tapi pake bahasa inggris.”
Tanpa berpikir panjang aku memenuhi permintaan Samuel.
Silent night, holy night
All is calm and all is bright
Round yon virgin mother and child
Holy infant so tender and mild
Sleep in heavenly peace
Sleep in heavenly peace
Silent night, holy night
Shepherds quake at the sight
Glories stream from Heaven afar
Heavenly hosts sing halleluia
Christ the savior is born
Christ our savior is born
Silent night, holy night
Son of God
Love’s pure light
Radiant beams from thy holy face
With the dawn of redeeming grace
Jesus Lord at thy birth
Jesus Lord at thy birth
Halleluia!
Halleluia!
Halleluia!
Christ the savior is born
Tangan kanan Samuel mendekap boneka Tazmanianya sementara tangan kirinya menggengam tanganku.
Genggamannya makin lama makin lembut hingga tak ada lagi nadinya yang berdetak.
“Surga menantimu, pahlawan kecilku,” bisikku dikupingnya yang dingin.

Mantan Tukang Cuci Piring dengan Kekayaan USD 15 Miliar





“Masalah sudah pasti muncul. Bagaimana kemampuan Anda untuk mengatasinya dan belajar dari masalah itu agar tidak mengulanginya. Hal itu yang akan membawa Anda sukses.”
Ungkapan itulah yang diucapkan Michael Dell,mengenang perjalanan kariernya hingga mencapai sukses sebagai CEO Dell Inc. Dell yang dikenal sebagai pekerja keras sejak kecil selalu belajar mengatasi masalah. Dia berusaha keras mencari jalan keluar dan akhirnya sukses.
Michael Saul Dell, mungkin hanya orang-orang tertentu yang mengetahui nama itu, akan tetapi kalau Dell Computer semua orang pasti tahu. Betul sekali, Michael Dell adalah pendiri dari perusahaan Dell Computer yang terkenal tersebut. Berkat inovasi, daya kreatifitas yang tinggi Michael Dell berhasil membawa perusahaanya meraih sukses sebagai salah satu perusahaan yang terkemuka didunia. Berikut biografi singkat dari Michel Saul Dell dan perusahaanya, Dell Computer.
Memulai Langkah
Posisi yang diraihnya saat ini bukan diterima begitu saja. Pencapaian itu didapat melalui keringat dan kerja keras. Memang Dell bukanlah anak keluarga miskin. Ibunya adalah seorang pialang saham, dan ayahnya seorang dokter gigi. Karena itu, tidak heran jika ayahnya menginginkan Dell kuliah di bidang kesehatan. Namun, Dell lebih suka dengan bidang komputer. Hal ini ditunjukkan saat berusia tujuh tahun ketika dia membeli kalkulator pertamanya. Pria kelahiran 23 Februari 1965 ini kemudian mendapatkan mesin teletype saat masih duduk di bangku SMP. Lalu, mesin itu dia program setelah pulang sekolah.

Saat berusia 12 tahun, pria bernama lahir Michael Saul Dell ini bekerja sebagai tukang cuci piring di restoran China di Houston,Texas. Dell menerima upah USD2,30 per jam. Pendapatan yang diterima itu dia kumpulkan untuk membeli perangko. Dell kecil memang gemar mengoleksi prangko.
Dari kegemarannya ini pula, dia mendapat uang pertamanya sebesar USD 1.000 setelah menjual seluruh koleksinya. Dalam usianya yang masih belia, Dell kerap bergonta-ganti pekerjaan mulai menjadi bus boy, bekerja sebagai karyawan di toko perangko dan koin langka, hingga menjadi penjual koran yang menyediakan layanan pemesanan lewat telepon.
Namun, ketertarikan Dell dunia komputer semakin terpatri saat berusia 15 tahun. Setelah bermain dengan komputer di Radio Shack, dia memiliki komputer pertamanya, sebuah Apple II, yang segera dibongkar untuk melihat cara kerjanya. Dell kemudian mencoba merakit kembali komputer yang dibongkarnya. Dia pun berhasil. Setelah itu, keinginannya pada dunia komputer semakin kuat. Saat berusia 18 tahun, Dell alih profesi. Dia bekerja mencari pelanggan untuk Houston Post. Dell yang saat itu masih sekolah menengah atas menerima gaji sebesar USD18.000 per tahun.
Selanjutnya, Dell mulai berbisnis komputer pada 1984 saat berusia 19 tahun dan masih menjadi mahasiswa di Universitas Texas, Austin. Dell kuliah dengan harapan menjadi dokter. Namun, ambisi itu dia tinggalkan dan memulai usaha sendiri, jual beli komputer dengan bendera “PC’s Limited” yang dilakukan dari asrama universitas.
Saat itu modal Dell hanya USD1.000 dari hasil penjualan koleksi prangkonya. “Ketika saya mendirikan Dell pada 1984, didasarkan pada premis bahwa Anda bisa menjual komputer langsung kepada pelanggan dengan disesuaikan keinginan mereka. Harganya lebih murah daripada pasar. Itu sudut pandang radikal,” ujar Dell seperti dilansir First Job Institute.
Usaha yang dijalaninya tidak lazim. PC’s Limited memungkinkan pelanggan menyesuaikan komputer mereka sesuai spesifikasi yang diinginkan. Harga yang ditawarkan jauh lebih rendah dibanding harga pasar. Hal ini bisa dimaklumi mengingat PC’s Limited tidak memiliki toko dan tidak perlu membayar perantara.
Semua komputer dijual langsung kepada pelanggan dengan menggunakan formulir pemesanan. “Di Dell, kami terus mengevaluasi bisnis untuk mengetahui bagaimana memperbaiki dan sering kali kami melakukan pendekatan kepada konsumen dengan cara yang sama sekali berbeda,” tukas Dell.
Interaksi langsung dengan konsumen ternyata dapat dijadikan satu langkah efektif, sehingga PC’s Limited diterima baik di masyarakat. Respons ini membuat Dell kewalahan dalam membagi waktu bisnis dan kuliah. Dia pun memutuskan berhenti kuliah dan lebih fokus menjalankan bisnis yang telah dia rintis.
Menuju Sukses
Melihat besarnya antusiasme dari masyarakat membuat Dell melebarkan sayap perusahaannya dengan memproduksi komputer pertama yang diberi nama PC Turbo. Sistem pemasaran dilakukan melalui berbagai majalah komputer dengan menyediakan spesifikasi yang dapat dipilih konsumen.
Cara ini membuat PC’s Limited dapat meraih pendapat kotor sebesar USD73 juta di tahun pertamanya dan menempatkan diri sebagai satu-satunya perusahaan yang sukses dengan sistem pemasaran seperti itu. Lalu pada 1988, PC’s Limited berganti nama menjadi Dell Computer Corporation.

Pada saat itu pula, Dell mulai melakukan sistem layanan di tempat. Pada 1992, kesuksesan Dell menjalankan usaha berhasil membuatnya dinobatkan sebagai CEO termuda dalam sejarah dunia yang memiliki perusahaan besar dan masuk dalam daftar 500 perusahaan top versi majalah Fortune (Fortune 500).
Saat itu Dell berusia 27 tahun. Kemudian pada 2003, Dell Computer Corporation berganti nama menjadi Dell Inc. “Ketika saya memulai
perusahaan, sangat banyak ide di luar kebiasaan bisnis konvensional. Jika ada orang yang mengatakan bahwa hal itu tidak akan bisa berhasil, saya tidak benar-benar mendengarkan mereka,”ujarnya.
Pada 2004,Dell mengundurkan diri sebagai CEO dan dia memilih duduk di dewan direksi.Tetapi untuk menyelamatkan perusahaan dari
keterpurukan, pada 2007 Dell kembali menjadi CEO, menggantikan Kevin Rolling. Berkat keahlian dan berbagai inovasi yang dilakukannya, produk Dell Inc mengalami banyak perkembangan.
Bukan hanya menjual komputer pribadi (PC), saat ini Dell Inc juga menyediakan layanan penjualan berbagai produk berbasis teknologi informasi seperti laptop, server, media penyimpanan (storage), printer, PDA, MP3, kamera,televisi. Kepiawaian Dell dalam berbisnis tidak perlu diragukan lagi.

Hal ini terbukti dari keberhasilannya menjadikan Dell Inc sebagai salah satu perusahaan komputer terkemuka di dunia, hingga berhasil menduduki peringkat 41 dalam daftar 500 Fortune Companies 2011. Tak hanya itu, Dell juga sukses meraih predikat sebagai salah satu orang terkaya di dunia versi majalah Forbes pada 2011, dengan total kekayaan bersih mencapai USD15 miliar.

Tanggung jawab Sosial
Sukses dalam mengembangkan perusahaannya, tak membuat Dell lupa pada kesejahteraan sesama. Oleh karena itu pada tahun 1999 Dell dan istrinya, Susan, membentuk Michael & Susan Dell Foundation untuk mengelola investasi dan upaya filantropi keluarga Dell.                  Melalui yayasan, Dell menggunakan sebagian dari kekayaan pribadinya untuk membantu anak-anak di seluruh dunia dengan berfokus pada kesehatan, pendidikan, keamanan, pengembangan generasi muda, dan perawatan anak usia dini, yang pada tahun 2005 memberikan sumbangan lebih dari $ 1 miliar, memberikan jutaan dolar untuk membantu korban tsunami 2004 di Asia selatan. Pada tahun 2006 ia juga menyumbang $ 50 juta kepada University of Texas di Austin.(http://motivatorsuper.com)